Pendekatan Ekohidrologi untuk Pengelolaan Kualitas Air




Cibinong, Humas LIPI. Asia Pacific Center for Ecohydrology (APCE) merupakan Center II  Category UNESCO yang dijalankan oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sejak 28 Maret 2011. APCE mempunyai tugas dan fungsi mengidentifikasi permasalahan permasalahan sumber daya air di kawasan Asia dan Pasifik serta potensi solusinya melalui konsep ekohidrologi.

Prof. Ignasius DA Sutapa, M.Sc,  Direktur APCE  menjelaskan untuk melaksanakan tugas dan fungsinya, APCE telah menetapkan tujuan strategis. “Ada empat tujuan strategis APCE yakni memperkenalkan sumber daya lokal berdasarkan penelitian ekohidrologi, memperkuat kapasitas lokal, menyediakan  akses yang mudah ke sumber daya lokal, dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pendekatan ekohidrologi berbasis sumber daya lokal,” terang Ignas pada SNSU BSN International Webinar (6/11).



Dirinya menjelaskan hal terkait tema webinar tentang ekohidrologi. “Ekohidrologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara proses hidrologi dan ekologi, vegetasi, sungai dan danau pada catchment scale. Hal ini berkaitan dengan faktor hidrologi dan ekologi yang mengubah kondisi ekosistem  sehingga mempengaruhi perubahan kualitas air,” jelas Ignas.

“Ekohidrologi merupakan pendekatan baru yang penting untuk sumber daya air dan pengelolaan ekosistem yang berkelanjutan,” sambung Ignas. Ignas menegaskan konsep ekohidrologi dapat meningkatkan pengelolaan kualitas air dengan menggunakan teknologi sebagai ecosystem properties untuk melestarikan keanekaragaman hayati, meningkatkan kualitas air, dan kelestarian ekosistem.

Ignas menerangkan APCE telah mencoba  melakukan beberapa kegiatan aplikasi ekohidrologi diantaranya adalah  demosite ekohidrologi di Waduk Saguling dan sekitarnya, yang menjadi demosite ekohidrolog di Asia Pacific Center for Ecohydrology.  “Demosite ini  dikembangkan dan didirikan oleh APCE - UNESCO C2C bekerjasama dengan Kantor UNESCO Jakarta, Puslit Limnologi- LIPI, PT. Indonesia Power dan Kabupaten Bandung Barat,” paparnya.

“Selain itu APCE juga membangunan Instalasi Pengolahan Air Gambut (IPAG60) untuk mendukung pelayanan air bersih di daerah marginal.  Masyarakat  lokal di sekitar lahan gambut  mendapat pelayanan kualitas  air bersih yang sangat rendah  sehingga perlu inovasi dan teknologi yang sesuai untuk pengolahan air gambut,” pungkas Ignas. (yli ed sl)