Tri Widiyanto, Sang “Arsitek” TEKNO PARK SAMOSIR

Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang mampu memadukan nilai kultural dan global, merupakan hal yang penting dan sangat dibutuhkan untuk perkembangan suatu negara.  Salah satu cara untuk memadukan IPTEK dengan kearifan lokal dan pemikiran global adalah dengan mengembangkan techno park atau taman sains. Cara ini dirintis dan dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Limnologi  (P2L)  LIPI.

Salah satu kegiatan yang dilakukan P2L adalah pengembangan potensi dan peningkatan nilai tambah Sumber Daya Perairan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Kab. Samosir. Kegiatan ini terwujud pada tahun 2015, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan Pemerintah Kabupaten Samosir membuat kesepakatan untuk membangun Teknopark Samosir, melalui MoU Nomor.12 Tahun 2015 / Nomor 15/KS/LIPI/VI/2015. Kemudian diikuti oleh berbagai perjanjian kerja sama untuk teknis pelaksanaan.

“Kegiatan ini berawal dari permasalahan yang dialami oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Samosir untuk pengembangan Balai benih Ikan (BBI). BBI sudah dibangun hampir selama 10 tahun, tetapi belum berhasil dengan baik,” kata Tri Widiyanto, Peneliti Ahli Utama P2L LIPI bidang mikrobiologi perairan. “Selanjutnya Puslit Limnologi membentuk tim kajian cepat dan  mengimplementasikan  salah satu teknologi pembuatan Dome penutup kolam pemijahan dan pendederan di BBI, serta teknologi pakan alami.” tambahnya

Pak Tri begitu dia biasa disapa adalah pria kelahiran Cilacap, 23 April 1963, peraih penghargaan 100 inovator Indonesia pada tahun  tahun 2005. Tri mengatakan sejak 2015, ia beserta tim telah berjibaku menyusun perencanaan, koordinasi dan mengadakan evaluasi  dalam pelaksanaan pengembangan Tekno Park Samosir. “Pada awal perencanaan adalah mengevaluasi paket teknologi yang akan diimplementasikan untuk mengatasi permasalahan BBI Kab. Samosir, dengan target dapat menjadi unit usaha yang profite centre, menghasilkan PAD, dari yang semula bersifat cost centre,” jelasnya. “Selain itu juga mengajukan pembiayaan yang dibutuhkan dan  mengkoordinir seluruh kegiatan. Selanjutnya mengevaluasi potensi dan meningkatanan nilai tambah Sumber Daya Alam setempat, dengan memanfaatkan hasil-hasil iptek yang sesuai.” ungkap Tri lebih jauh.

Selanjutnya menurut Tri, secara keseluruhan kegiatan transfer teknologi yang dilakukannya beserta tim selama lima tahun sudah memberikan hasil yang positif. “Pada  awalnya BBI tidak dapat produksi benih  ikan dan saat ini sudah dapat berproduksi dan menjadi salah satu target PAD (Pendapatan Asli Daerah) bagi Kab. Samosir,” kisah Tri.

“Masyarakat sudah mendapatkan bibit ikan yang berkualitas, berkembangnya kelompok tani pendeder dan pembesaran, serta terbentuknya usaha kecil yang terkait dengan pengolahan dan pengemasan hasil pertanian secara umum. Bahkan beberapa Kabupaten lain mengirim SDM nya untuk melakukan pelatihan dan kunjungan ke Teknopark Samosir ,” papar Tri. “Dalam proses transfer hasil-hasil IPTEK sangat dibutuhkan komitmen dari para pihak, dan membutuhkan waktu serta proses yang tidak mudah dan cepat. Kesiapan SDM penerima juga harus menjadi satu perhatian penting dalam transfer teknologi ini,” pungkasnya.


Dr. Tri Widiyanto, M.Si, memulai pendidikan Strata 1-nya di Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto (1982-1987) hingga melanjutkan pendidikannya sampai Doktor di Institut Pertanian Bogor (IPB). Bidang penelitian yang ditekuni adalah mikrobiologi perairan. Tri dan tim mengembangkan penelitian peran bakteri dalam bioremediasi senyawa metabolit toksik pada sistem perairan budidaya, khususnya senyawa amoniak, nitrit dan sulfida. Beberapa isolat bakteri yang potensial untuk pengendalian senyawa metabolit toksik telah ditemukan dari sistem perairan Indonesia dan telah diimplementasikan dalam usaha budidaya tambak udang. Dalam organisasi profesi, Tri masuk menjadi anggota Himpenindo (Perhimpunan Peneliti Indonesia), dan sebagai salah satu yang ikut membidani lahirnya organisasi profesi “Masyarakat Limnologi Indonesia (MLI)”. Selain itu dalam masa kepemimpinannya menjadi Kapuslit Limnologi (2010-20160 juga aktif menyusun naskah akademik lahirnya Unit Pelaksana Teknis (UPT) Loka Alih Teknologi Penyehatan Danau di Maninjau pada tahun 2016. Kemudian menjadi menjadi Sekretaris Eksekutif APCE (Asia-Pacific of of Eco-Hydrology). Dengan karya-karyanya saat Tri Widiyanto adalah sebagai Peneliti Ahli Utama Bidang Mikrobiologi Perairan Darat P2L LIPI (yov / ed. sl)