Ignasius DA Sutapa: Antara Krisis Sumber Daya Air dan APCE

Cibinong, Humas LIPI. Sejarah manusia dan kehidupan tidak akan pernah lepas dari problem dan solusi. Permasalahan sumber daya air yang terjadi di dunia saat ini menjadi isu penting yang patut untuk dicermati. Jumlah air di dunia memang tidak berkurang, namun kualitasnya terus menurun dan sebarannya terus mengalami perubahan yang cukup drastis. Berbagai krisis air yang timbul antara lain kelangkaan air bersih dan buruknya sanitasi, kekeringan dan banjir, hilangnya keanekaragamaan hayati, pencemaran air dan konflik kepemilikan air. Permasalahan ini timbul sebagai akibat dari kegagalan manajemen dan identifikasi dampak pertambahan penduduk, peningkatan taraf hidup, jumlah dan kualitas limbah, pemakai air yang terus naik, penggundulan hutan serta kerusakan lingkungan yang makin parah.

Asia Pacific Centre for Ecohydrology (APCE) merupakan Lembaga Kategori II dibawah UNESCO, lahir untuk menjawab tantangan permasalahan sumberdaya air di kawasan Asia Pacific. “Melalui perjuangan panjang sejak tahun 2000-an, berdirinya APCE disetujui oleh Sidang Umum UNESCO pada tahun 2009, dan Indonesia dipilih untuk menjadi host (penyelenggara) dari lembaga ini, “kata Prof. Dr. Ignasius DA Sutapa, M.Sc, Direktur Eksekutif APCE.

Ignasius menerangkan pada tanggal 28 Maret 2011, APCE dinyatakan berdiri sebagai UNESCO Category II Centre melalui penandatanganan perjanjian antara Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Kepala LIPI dengan UNESCO yang diwakili oleh Direktur General Dr. Irina Bukova. “APCE memiliki fungsi diantaranya untuk mengidentifikasi isu-isu permasalahan sumberdaya air di kawasan Asia Pasifik serta potensi penyelesaiannya menggunakan pendekatan konsep ekohidrologi, ” jelasnya

Ignasius adalah Profesor Riset bidang Teknik Lingkungan Pusat Penelitian Limnologi LIPI mengatakan tugas utama APCE sebagai UNESCO C2C adalah : • Scientific Research: Create the Research Program & Coordinating the Collaborative Research Projects in the Field of Ecohydrology in the Asia Pacific Region • Training & Capacity Building: Create and Conducting the Training Program and Public Awareness related Ecohydrology Field in the Asia Pacific Region & International • Networking: Participate and Organizing the Scientific Community Meeting and Initiating Ecohydrology Field-based Collaborative Works • Scientific Reference: Publications

Lebih lanjut, Ignasius menjelaskan sejak ditugaskan menjadi Direktur Eksekutif APCE pada 16 Agustus 2016, ia berhasil memimpin APCE untuk menjalankan tugas dan fungsinya sebagai UNESCO C2C sehingga lembaga ini memperoleh predikat Sangat Baik setelah dilakukan audit oleh UNESCO Paris pada akhir tahun 2017. “Hal ini memberi dampak positif yaitu telah disetujui statusnya diperpanjang sebagai UNESCO C2C selama 6 tahun ke depan sejak ditandatanganinya agreement antara UNESCO dengan Pemerintah Indonesia pada Tahun 2019,” jelasnya.

Ignas menjelaskan APCE saat ini menjadi rujukan dari berbagai lembaga internasional sejenis (HTC Malaysia, ICCE Portugal, IWSSM Korea, ERCE Polandia, WENDY Japan, Australia, CHINA, CHEADSEA Indonesia, ICAN Indonesia) dalam mengembangkan program dan pelaksanaan kegiatannya. “Pada sidang UNESCO RSC IHP ke 25 yang dilaksanakan di Manila, Philippines, sebagai dukungan dan pengakuan atas keberhasilan APCE, Direktur Eksekutif APCE, saya dipercaya oleh UNESCO Asia Pacific dan dipilih untuk menduduki posisi Chairman of UNESCO RSC IHP for Asia Pacific Region sejak Tahun 2017,” jelasnya. “Hal ini tentu saja memberi dampak kepada visibilitas Indonesia, LIPI dan APCE di wilayah Asia pacific dan dunia internasional, “ pungkas Ignas.(yov ed sl)